Showing posts with label Motivation and Reflection. Show all posts
Showing posts with label Motivation and Reflection. Show all posts

Thursday, January 5, 2012

Kisah Seekor Kupu Kupu



Di sebuah kota kecil yang tenang & indah, ada sepasang pria & wanita yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja.
Setiap orang yang bertemu dengan mereka tidak bisa tidak akan menghantar dengan pandangan kagum & doa bahagia. Mereka saling mengasihi satu sama lain Namun pada suatu hari, malang sang lelaki mengalami luka berat akibat sebuah kecelakaan. Ia terbaring di atas ranjang pasien beberapa malam tdk sadarkan diri di rumah sakit. Siang hari sang wanita menjaga di depan ranjang & dengantiada henti memanggil-manggil kekasih yang tidak sadar sedikitpun.

Malamnya ia ke gereja kecil di kota tersebut dan tak lupa berdoa kepada Tuhan agar kekasihnya selamat. Air matanya sendiri hampir kering karena menangis sepanjang hari.

Seminggu telah berlalu, sang lelaki tetap pingsan tertidur seperti dulu, sedangkan si wanita telah berubah menjadi pucat pasi & lesu tidak terkira, namun ia tetap dengan susah payah bertahan & akhirnya pada suatu hari Tuhan terharu oleh keadaan wanita yang setia & teguh itu, lalu Ia memutuskan memberikan kepada wanita itu sebuah pengecualian kepada dirinya.

Tuhan bertanya kepadanya "Apakah kamu benar-benar bersedia menggunakan nyawamu sendiri utk menukarnya?" .
Si wanita tanpa ragu sedikitpun menjawab "Ya".

Tuhan berkata "Baiklah, Aku bisa segera membuat kekasihmu sembuh kembali, namun kamu harus berjanji menjelma menjadi kupu-kupu selama 3 tahun.
Pertukaran seperti ini apakah kamu juga bersedia?".
Si wanita terharu setelah mendengarnya & dengan jawaban yang pasti menjawab "saya bersedia!".

Hari telah terang. Si wanita telah menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Ia mohon diri pada Tuhan lalu segera kembali ke rumah sakit. Hasilnya, lelaki itu benar-benar telah siuman bahkan ia sedang berbicara dgn seorg dokter.
Namun sayang, ia tidak dapat mendengarnya sebab ia tak bisa masuk ke ruang itu. Dengan di sekat oleh kaca, ia hanya bisa memandang dari jauh kekasihnya sendiri.
Beberapa hari kemudian, sang lelaki telah sembuh. Namun ia sama sekali tidak bahagia.
Ia mencari keberadaan sang wanita pada setiap orang yang lewat, namun tidak ada yang
tahu sebenarnya sang wanita telah pergi kemana.
Sang lelaki sepanjang hari tidak makan & istirahat terus mencari. Ia begitu rindu kepadanya, begitu inginnya bertemu dengan sang kekasih, namun sang wanita yang telah berubah menjadi kupu-kupu bukankah setiap saat selalu berputar di sampingnya ?
Hanya saja ia tidak bisa berteriak, tidak bisa memeluk. Ia hanya bisa memandangnya secara diam-diam.

Musim panas telah berakhir, angin musim gugur yang sejuk meniup jatuh daun pepohonan. Kupu-kupu mau tidak mau harus meninggalkan tempat tersebut lalu terakhir kali ia terbang & hinggap di atas bahu sang lelaki.
Ia bermaksud menggunakan sayapnya yang kecil halus membelai wajahnya, menggunakan mulutnya yang kecil lembut mencium keningnya.
Namun tubuhnya yg kecil & lemah benar-benar tidak boleh di ketahui olehnya, sebuah gelombang suara tangisan yang sedih hanya dapat di dengar oleh kupu-kupu itu sendiri & mau tidak mau dengan berat hati ia meninggalkan kekasihnya, terbang ke arah yg jauh dengan membawa harapan.

Dalam sekejap telah tiba musim semi yg kedua, sang kupu-kupu dengan tidak sabarnya segera terbang kembali mencari kekasihnya yg lama di tinggalkannya.
Namun di samping bayangan yang tak asing lagi ternyata telah berdiri seorang wanita cantik. Dalam sekilas itu sang kupu-kupu nyaris jatuh dari angkasa.
Ia benar-benar tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya sendiri.

Lebih tidak percaya lagi dengan omongan yang di bicarakan banyak orang. Orang-orang selalu
menceritakan ketika hari natal, betapa parah sakit sang lelaki. Melukiskan betapa baik dan manisnya dokter wanita itu. Bahkan melukiskan betapa sudah sewajarnya percintaan mereka & tentu saja juga melukiskan bahwa sang lelaki sudah bahagia seperti dulu kala .

Sang kupu-kupu sangat sedih. Beberapa hari berikutnya ia seringkali melihat kekasihnya sendiri membawa wanita itu ke gunung memandang matahari terbit, menghantar matahari senja di pesisir pantai. Segala yg pernah di milikinya dahulu dalam sekejap tokoh utamanya telah
berganti seorang wanita lain sedangkan ia sendiri selain kadangkala bisa hinggap di atas bahunya, namun tidak dapat berbuat apa-apa.

Musim panas tahun ini sangat panjang, sang kupu-kupu setiap hari terbang rendah dengan tersiksa & ia sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk mendekati kekasihnya sendiri. Bisikan suara antara ia dengan wanita itu, ia dan suara tawa bahagianya sudah cukup membuat hembusan napas dirinya berakhir, karenanya sebelum musim panas berakhir, sang kupu-kupu telah terbang berlalu.

Bunga bersemi & layu. Bunga layu & bersemi lagi. Bagi seekor kupu-kupu waktu seolah-olah hanya menandakan semua ini.
Musim panas pada tahun ketiga, sang kupu-kupu sudah tidak sering lagi pergi mengunjungi kekasihnya sendiri. Sang lelaki bekas kekasihnya itu mendekap perlahan bahu si wanita, mencium lembut wajah wanitanya sendiri.
Sama sekali tidak punya waktu memperhatikan seekor kupu-kupu yang hancur hatinya apalagi mengingat masa lalu.

Tiga tahun perjanjian Tuhan dengan sang kupu-kupu sudah akan segera berakhir dan pada saat hari yang terakhir, kekasih si kupu-kupu melaksanakan pernikahan dengan wanita itu.
Dalam kapel kecil telah dipenuhi orang-orang. Sang kupu-kupu secara diam-diam masuk ke dalam dan hinggap perlahan di atas pundak Tuhan.
Ia mendengarkan sang kekasih yang berada dibawah berikrar di hadapan Tuhan dengan mengatakan "saya bersedia menikah dengannya!".
Ia memandangi sang kekasih memakaikan cincin ke tangan wanita itu, kemudian memandangi mereka berciuman dengan mesranya lalu mengalirlah air mata sedih sang kupu-kupu.

Dengan pedih hati Tuhan menarik napas "Apakah kamu menyesal?".
Sang kupu-kupu mengeringkan air matanya "Tidak".
Tuhan lalu berkata di sertai seberkas kegembiraan "Besok kamu sudah dapat kembali menjadi dirimu sendiri".
Sang kupu-kupu menggeleng-gelengkan kepalanya "Biarkanlah aku menjadi kupu-kupu seumur hidup".

ADA BEBERAPA KEHILANGAN MERUPAKAN TAKDIR.
ADA BEBERAPA PERTEMUAN ADALAH YANG TIDAK AKAN BERAKHIR SELAMANYA.
MENCINTAI SESEORANG TIDAK MESTI HARUS MEMILIKI, NAMUN MEMILIKI SESEORANG MAKA HARUS BAIK-BAIK MENCINTAINYA...

Budhi Cahyadi

Tuesday, December 6, 2011

50 KEBIASAAN ORANG SUKSES


­

1.Carilah dan temukan kesempatan di mana orang lain saat orang lain gagal menemukannya.

2.Orang sukses melihat masalah sebagai bahan pembelajaran dan bukannya kesulitan belaka.

3.Fokus pada solusi, bukan berkubang pada masalah yang ada.

4.Menciptakan jalan suksesnya sendiri dengan pemikiran dan inovasi yang ada.

5.Orang sukses bisa merasa takut, namun mereka kemudian mengendalikan dan mengatasinya.

6.Mereka mengajukan pertanyaan yang tepat, sehingga menegaskan kualitas pikiran dan emosional yang positif.

7.Mereka jarang mengeluh.

8.Mereka tidak menyalahkan orang lain, namun mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka.

9.Mereka selalu menemukan cara untuk mengembangkan potensi mereka dan menggunakannya dengan efektif.

10.Mereka sibuk, produktif, dan proaktif, bukan luntang-lantung.

11.Mereka mau menyesuaikan diri dengan sifat dan pemikiran orang lain.

12.Mereka memiliki ambisi atau semangat.

13.Tahu benar apa yang diinginkan.

14.Mereka inovatif dan bukan plagiat.

15.Mereka tidak menunda-nunda apa yang ada.

16.Mereka memiliki prinsip bahwa hidup adalah proses belajar yang tiada henti.

17.Mereka tidak menganggap diri sempurna sehingga sudi belajar dari orang lain.

18.Mereka melakukan apa yang seharusnya, bukan apa yang mereka mau lakukan.

19.Mereka mau mengambil resiko, tapi bukan nekat.

20.Mereka menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan segera.

21.Mereka tidak menunggu datangnya keberuntungan, atau kesempatan. Merekalah yang menciptakannya.

22.Mereka bertindak bahkan sebelum disuruh/ diminta.

23.Mereka mampu mengendalikan emosi dan bersikap profesional.

24.Mereka adalah komunikator yang handal.

25.Mereka mempunyai rencana dan berusaha membuatnya menjadi kenyataan.

26.Mereka menjadi luar biasa karena mereka memilih untuk itu.

27.Mereka berhasil melalui masa-masa berat yang biasanya membuat orang lain menyerah.

28.Mereka tahu apa yang penting bagi mereka dan melakukan yang terbaik yang mereka bisa.

29.Mereka memiliki keseimbangan. Mereka tahu bahwa uang hanya alat, bukan segalanya.

30.Mereka paham betul pentingnya disiplin dan pengendalian diri.

31.Mereka merasa aman karena mereka tahu mereka berharga.

32.Mereka juga murah hati dan baik hati.

33.Mereka mau mengakui kesalahan dan tidak segan untuk minta maaf.

34.Mereka mau beradaptasi dengan perubahan.

35.Mereka menjaga kesehatan dan performa tubuh.

36.Mereka rajin.

37.Ulet

38.Mereka terbuka dan mau menerima masukan dari orang lain.

39.Mereka tetap bahagia saat menghadapi pasang surut kehidupan.

40.Mereka tidak bergaul dengan orang-orang yang salah/ merusak.

41.Mereka tidak membuang waktu dan energi emosional untuk sesuatu yang di luar kendali mereka.

42.Mereka nyaman bekerja di tempat yang ada.

43.Mereka memasang standar yang tinggi bagi diri sendiri.

44.Mereka tidak mempertanyakan mengapa mereka gagal namun memetik pelajaran dari itu semua.

45.Mereka tahu bagaimana harus rileks, menikmati apa yang ada, dan mampu bersenang-senang dalam kecerobohan sekalipun.

46.Karir mereka bukanlah siapa mereka, itu hanyalah pekerjaan.

47.Mereka lebih tertarik pada apa yang efektif ketimbang pada apa yang mudah.

48.Mereka menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.

49.Mereka menyadari bahwa mereka bukan hanya makhluk hidup belaka, namun juga makhluk rohani.

50..Mereka melakukan pada yang mereka katakan.

By. Budhi Cahyadi,
dari berbagai sumber



Friday, November 18, 2011

HEDONISME


Kata hedonisme diambil dari Bahasa Yunani hēdonismos dari akar kata hēdonē, artinya "kesenangan".

Menurut Wikipedia arti dari Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.

Dalam era globalisasi dewasa ini yang ditandai dengan semakin ketatnya persaingan di segala bidang, merupakan suatu realitas yang tak dapat dipungkiri dan tak mungkin dihindari oleh setiap orang yang hidup di zaman ini. Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi, lebih-lebih media elektronik telah menawarkan suatu gagasan baru ke seluruh dunia tanpa memperhitungkan dampak-dampak negatif yang dapat ditimbulkannya terhadap norma agama dan moral manusia.

Promosi bertubi-tubi yang dilancarkan oleh berbagai media massa telah menawarkan kenikmatan hidup dengan gaya modern, konsumtif dan jet-set (mewah). Gaya hidup yang dituntut dan dikejar oleh hampir setiap orang sebagai pelaku kehidupan modern adalah kehidupan yang bebas tanpa batas, baik batas etika kesopanan dan moralitas. Roda kehidupan yang dipacu dengan akselerasi tinggi hingga menjadi cepat panas, disamping juga ketatnya dunia kompetisi, khususnya di bidang ekonomi dan prinsip-prinsip pemenuhan kebutuhan serta keinginan manusia, telah memaksa manusia kini tidak lagi berperilaku dan bertindak manusiawi tetapi dengan semau gue (seenaknya sendiri).
Bagi banyak orang, mencari rejeki yang halal dan baik nyaris dianggap suatu pekerjaan yang sia-sia. Adanya peluang untuk korupsi, kolusi, manipulasi dan sejenisnya yang berseliweran di depan hidung, benar-benar membuat mata mereka menjadi "silau". Rangsangan manipulasi dan kolusi itu menjadi "klop" manakala kita melihat keadaan ekonomi yang semakin sulit akhir-akhir ini. Susahnya mencari pekerjaan, harga barang-barang kebutuhan yang terus melambung serta gaya hidup yang semakin men-jetset hingga membuat kebanyakan manusia jadi lupa diri, tabrak sana tabrak sini tanpa memperdulikan norma agama dan moralitas, yang penting duit (uang) bisa didapat dengan mudah walupun harus dengan cara yang kotor dan keji.

Apabila diingatkan, baik dengan teguran-teguran religi yang tersirat maupun yang tersurat, sungguh yang keluar dari bibir mereka adalah kata-kata pembelaan, "Jangankan cari rejeki yang halal, yang haram saja susah !", begitu sering dilontarkan. Hidup dinilai hanya untuk saat ini saja, mereka tidak lagi dilhami oleh kehidupan masa depan yang bersifat surgawi nan kekal dan abadi. Orang-orang itu hanya menghargai kekayaan dan kemewahan dengan segala yang berhubungan dengan kehinaan dan kerendahan moral. Dan mereka tersentak ketika melihat atau dipamerkan sesuatu yg sifatnya materialistik, gaya, gaul, eksistensi berlebih, narsisme, untuk segera membalas dengan cara yang lebih daripada itu. Mereka akan mencela orang yang tidak ikut berkecimpung dalam perebutan materi tersebut betapapun orang itu baik budi dan berwatak mulia.

Ini semua mengindikasikan bahwa materi berada di atas segala-galanya dan telah menjadi sesuatu yang menentukan tujuan hidup sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak secara total, bukan lagi sebagai sarana dan alat untuk mencapai tujuan hidup tersebut.

Bila kemaksiatan sudah menjadi suatu kebiasaan (bahkan sudah menjadi suatu kenikmatan), apalagi kalau bukan pembelaan dan pembenaran yang menjadi andalan. Sederet kata-kata yang menjijikan pun akan meluncur dengan deras dan fasih-nya dari bibir mereka yang secara otomatis menjadi pandai bertutur bak tukang obat kaki lima di pinggir jalan. "Saya ‘kan hanya menerima pemberian orang...Lagi pula saya tidak memaksa kok...! Yah..,saya kan cuma sedikit, lihat tuh babe-babe kita dapatnya lebih banyak". Dan ketika diingatkan, itu salah  dengan dalil-dalil agama: "Orang yang menyogok dan yang disogok, dua-duanya masuk Neraka". Mereka menjawab lagi :"Tapi saya berbuat demikian ‘kan untuk menafkahkan anak-isteri ..., bukankah menafkahkan keluarga juga termasuk amal soleh ?".

Begitulah manusia yang sudah dibutakan oleh kecintaan pada dunia, mula-mula hanya ikut menikmati, makin lama makin menjadi, pada akhirnya menjadi ideologi yang akan dibela sampai mati. Mereka hanya berorientasi kepada uang, peluang, dan senang-senang. Inilah sekelumit gaya hidup hedonisme (hanya mencari kesenangan duniawi saja) dan materialisme (hanya mementingkan materi semata) yang tengah melanda masyarakat kita dan orang-orang yang hidup di akhir abad ke-20 ini. Maka bila hal ini tidak disadari dan diwaspadai akan menjerumuskan masyarakat kepada masyarakat yang Dehumanis, Apatis dan Hedonis.

Mereka menganggap kemanusiaan adalah suatu komoditi yang tak diperlukan lagi. Mereka berteriak-teriak : "Jangan pikirkan hari esok, hidup cuma untuk hari ini, jangan perdulikan orang lain, yang penting perkuat diri. Jadikan dirimu populer meskipun dirimu bodoh dan biarkan mereka berduyun-duyun bersimpuh dalam tali sepatu kekayaan dan kekuasaanmu". Itulah gaya hidup para wajah dunia materialistik.

Ciri-Ciri Manusia Yang Terjebak Dalam Hedonisme:
  1. Sok kaya, meskipun dalam kehidupan sehari-hari sangat jauh dari kesan manusiawi
  2. Sok gaul, sehingga apapun akan dilakukan agar supaya eksistensi diri tetap terjaga
  3. Ingin terlihat fashionable
  4. Sok kecakepan (CINTA DIRI SENDIRI YANG BERLEBIHAN/NARSISME)
  5. Lebih mementingkan gaya dari pada otak
  6. Suka meniru niru (followers) dari pada menjadi trendsetters
  7. Rasa nasionalisme yang rendah
  8. Hanya membaur sebatas golongan2 tertentu saja
  9. Sok kebarat baratan dan menganggap rendah kebudayaan sendiri
  10. Tingkat kreatifitas yang rendah
  11. Tingkat konsumerisme yang tinggi (besar pasak dari pada tiang)
  12. Tingkat produktifitas yang rendah (pemalas)
  13. Tingkat kepedulian sosial yang rendah
  14. Suka menilai manusia hanya dari fisik saja bukan dari kepribadian dan kapasitasnya (cenderung RASISME)
  15. Menganggap moralitas/agama/norma/etika adalah hal yang bukan utama

Kekayaan dan kekuasaan memang penting, lebih dikarenakan untuk membiayai dan mendukung kebaikan, moralitas dan etika sosial yang berlaku, dan menjadi senjata untuk menundukkan kejahatan, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan tetapi lebih untuk kepentingan dan kesejahteraan seluruh manusia di manapun berada.

Semoga kita semua terhindar dan dijauhkan dari hal-hal serta sifat-sifat tersebut di atas, begitu juga keturunan kita, sanak dan saudara serta kerabat dekat kita.

Amien………

Budhi Cahyadi
Dari berbagai sumber



Saturday, November 12, 2011

The Winner Mindset

Rhenald Kasali, Ph.D. dalam bukunya yang berjudul Marketing In Crisis menuliskan beberapa pola pikir seorang pemenang yang disarikan dari Buku Coming In First, tulisan Dr. Jack J. Llewellyn.

  1. Winners Play to Win, Survisors Play to Not Loose
Menjadi pemenang bukan sekedar survive, banyak orang yang tujuan hidupnya bukan untuk menjadi pemenang, melainkan ”sekedar hidup” atau ”menumpang hidup”, bahkan lebih berbahaya lagi, ”berani mati”. Seharusnya kita mulai menyadari bahwa hidup memerlukan sikap mental juara, menjadi pemenang yang bukan sekedar ada. Di perguruan tinggi banyak ditemui lebih banyak survivor yang sekadar kuliah saja untuk memperoleh ijazah. Di kantor dilihat demikian banyaknya survivor yang sekadar bekerja, menumpang hidup dan tidak mengejar prestasi. Pemenang mengejar prestasi.

  1. Winning is Not Easy. It is Challenging, Demanding, Costly and Risky
Menjadi pemenang tidaklah mudah, butuh kerja keras dan pertarungan melawan ketakutan, kenyamanan, menuntut diri lebih dari sebelumnya, dan semua itu beresiko.

  1. Winning is Lonely
Pemenang hanyalah satu orang, sedangkan survivor ada ribuan. Bersiap-siaplah dalam kesendirian, yang dibucarakan banyak orang. Kadang-kadang kesalahan kecil yang Anda buat bisa diperbesar oleh para survivor. Mentalitas kerumunan yang menjadi kebiasaan sehari-hari manusia komunal, jelas sebuah ganjalan bagi mereka yang ingin keluar dan tampil dengan mental juara.

  1. You Cannot Delegate It to Somebody Else
Menjadi pemenang harus dikerjakan oleh kita semua, Anda, atasan Anda, dan rekan-rekan Anda semua. Ia tidak bisa didelegasikan karena merekat dengan kita semua. Ia bergerak bukan karena keputusan atasn atau bahkan keputusan istri atau kekasih. Andalah yang menentukan karena Anda pulalah yang akan berhadapan dengan pertempurn.

  1. Winners Tend to be Happier People
Para pemenang memiliki harga diri atau self esteem. Mereka bahagia karena diakui dan dihormati – tak peduli apa kata para looser – dan mencapai apa yang ingin dicapai serta membahagiakan banyak orang. Winners bukan soal uang atau pencapaian materi keuangan, karena bukan itu esensinya. Mereka bahagia karena menghargai dan dihargai, bersyukur karena terberkati.

  1. Winners Understand the Meaning of Balance
Para pemenang bukanlah orang-orang yang selfish yang hanya mengurusi dirinya sendiri. Mereka tahu, pemenang hanya bisa dicapai oleh mereka yang hidupnya seimbang: duniawi-surgawi, material-spiritual, pribadi-keluarga, keluarga-masyarakat.

  1. Winning Is a Lifelong Process
Menjadi pemenang bukanlah urusan sesaat. Ia adalah sebuah proses panjang yang melewati berbagai lika-liku. Tidak ada jalan pintas dalam meraih kemenangan, dan bila sudah menang Anda bisa bernafas lega sesaat, namun setelah itu balik lagi ke atas panggung bertarung melawan jago-jago baru. Dan kalaupun kalah, Anda tak merasa dunia ini telah berakhir. Seorang juara menerima kekalahan sebagai hal yang biasa, dan harus segera berjuang merebutnya kembali.

  1. Winning Is about ”Doing the Right Things for the Right Reasons”
Banyak orang menyalah-artikan sikap mental pemenang yang berarti bekerja keras sebagai pekerja lebih panjang, menghasilkan lebih banyak uang, dan bila perlu melanggar peraturan atau etika bisnis. Tentu saja itu semua keliru. Bekerja keras bagi pemenang berarti berpikir lebih cerdas agar mampu memilih lebih baik, karena pemenang adalah pemilih yang terbaik.

Monday, October 17, 2011

Bukan Permainan

Sesungguhnya ada satu kebutuhan kita sebagai manusia yang sangat mendasar dan vital melebihi kebutuhan pangan, sandang, papan dan rasa aman dari rasa takut. Yaitu kebutuhan kita untuk menghamba kepada Tuhan Penguasa Alam Semesta! Sebuah kebutuhan yang hakikatnya tidak akan bisa diserupakan dengan semua kebutuhan yang ada dalam hidup kita. Agar keinginan untuk meraih kebaikan sejati dan menghindari segala bentuk keburukan menemukan bentuknya.
Tapi entah kenapa diantara kita tidak menyadarinya. Kita sibuk menghabiskan waktu untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan yang kita anggap penting, atau dipenting-pentingkan. Kita terlena dalam kesibukan itu hingga tidak sempat bertanya lagi, benarkah apa yang kita kejar selama ini adalah deretan kepentingan yang tidak bisa ditawar lagi? Atau sebenarnya ada banyak kepentingan di luar itu yang sejatinya jauh lebih kita butuhkan.

Terlena Kesibukan
Kita tidak sedang bermain-main dengan hidup, sebab waktu yang berlalu tidak bisa diputar kembali. Apapun pilihan kita kini, ialah yang akan memberikan hasil di kemudian hari. Alih-alih meraih kebahagiaan, kita bisa saja malah terperosok ke dalam kehancuran karena keliru memilih. Dan hal itu, seringkali, akibat kemalasan kita menggunakan sedikit waktu untuk berfikir tentang makna hidup yang sebenarnya.
          Karena sesungguhnya, hakikat kita sebagai manusia adalah kalbu dan jiwa kita. Dimana kualitas kepuasannya bukan sekedar pada tumpukan materi belaka, hal yang kini banyak dipercaya manusia. Namun juga, dan ini jauh lebih penting, kenyamanan kalbu dan jiwa kita. Rasa nyaman yang sebenarnya. Bukan tipuan atau kepura-puraan.
          Kita harus percaya bahwa mengabaikan kalbu ibarat menyimpan bom waktu yang suatu saat pasti meledak. Dan ketika itu terjadi, bisa jadi kita tidak siap menerimanya. Karena akibatnya sering tidak terduga. Pahit, pedih, dan mengecewakan, sedang pada saat yang sama kesempatan yang ada sudah terbuang percuma. Tidak cukup waktu lagi untuk menebus kesalahan. Bubur ini tidak lagi bisa menjadi nasi.
          Kita mungkin terlalu sibuk hingga tidak sempat merenung untuk memenuhi kebutuhan kalbu. Atau kita merasa sudah berjalan diatas jalan yang benar karena mendapatkan pembenarannya dari pilihan mayoritas disekeliling kita. Meski sebenarnya dari yang mayoritas itupun mengajari kita banyak hal andai kita punya cukup waktu untuk memperhatikannya.
          Bukanlah tidak sulit bagi kita untuk menemukan manusia-manusia ingkar yang akhirnya harus menderita karena pilihan hidup mereka? Manusia-manusia yang frustasi dan kecewa, meski pada saat yang sama bergelimang dengan nikmat dunia dan berrkuasa. Seolah perolehan yang sangat mereka banggakan dahulu, tidak lebih hanya sekedar fatamorgana.

Hanya Tuhan Penguasa Alam Semesta Yang Berhak
Di alam semesta ini, tidak ada yang bisa menjadikan kalbu tenang, tentram, senang, bahagia dan nyaman, selain Tuhan Penguasa Alam Semesta. Bukan karena Dia-lah Sang Pencipta yang karenanya menjadi paling tahu mengenai ciptaan-Nya. Jadikan agama sebagai sebagai rahmat, petunjuk, obat penawar kalbu, nasihat, ruh, wasiat dan segala kebaikan bagi manusia.
          Ikatan-ikatan hati bernama agama yang berjalan beriringan dengan ilmu tentang batas boleh dan tidak, kemudian dilanjutkan dengan kepasrahan bernama ibadah sepenuh keikhlasan hati dan perbuatan, adalah kunci sukses meraih kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang dalam dan berjiwa, menentramkan, menebarkan manfaat, serta memuaskan semua pihak.
          Namun, tidak banyak manusia yang percaya, bahkan mereka yang menyatakan diri sebagai ahli agama atau ahli ibadah sekalipun. Mereka lebih suka mempercayai cara meraih kebahagiaan dari gaya hidup hedonistik materialistik, hanya mengejar kesenangan materi yang sesungguhnya tidak berjiwa itu.
          Faktanya, tumpukan materi itu memang bisa menjadi sarana bersenang-senang. Hal yang gampang terlihat dan langsung bisa dirasakan, sehingga banyak menipu manusia. Tapi di sisi lain, mereka kehilangan nurani karena mementingkan diri sendiri, juga kehilangan hakikat kenikmatan hidup.
          Kita sering lupa, atau pura-pura lupa bahwa kebahagiaan, kelezatan dan kenikmatan hidup yang sejati bukanlah hal yang rumit dan sulit. Ia ada pada keseimbangan jiwa dan raga, lahir dan batin, individual dan sosial, juga materi dan non materi. Dan hanya Tuhan Sang Penguasa Alam Semesta yang tahu komposisi tepat untuk itu semua.
         
Perolehan Yang Menipu
Dari sini, sesungguhnya tidak ada kebaikan, kenikmatan, kebahagiaan, kelezatan dan kesenangan yang bisa diperoleh tanpa menyertakan Tuhan sebagai Penguasa Alam Semesta ini. Karena hanya Dia, dan memang hanya Dia yang menjamin perolehan kebahagiaan bagi manusia. Ilmu-Nya sangat luas meliputi segala sesuatu. Dia mengetahui apa yang terbaik yang dibutuhkan manusia, melebihi pengetahuan manusia akan diri mereka sendiri.
          Hingga jika ada manusia yang merasa bisa meraih sukses, padahal dia meninggalkan Tuhan, sesungguhnya dia tertipu. Keadaannya seperti meminum racun berasa lezat. Mematikan, meski sepintas tampak baik-baik saja. Bahaya yang mengancam mereka berlipat ganda tanpa mereka sadari. Dan itu tak akan pernah sebanding dengan kesenangan yang mereka dapatkan. Lalu, apakah hal ini masih disebut sebagai sebuah kenikmatan?

Masa lalu tidak mungkin berbohong...
Masa sekarang adalah perjalanan...
Masa depan adalah rahasia...

Budhi Cahyadi

Thursday, October 6, 2011

B O S A N ?

Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu :"Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?"

Pak Tua :
"Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu."

Tamu :"Kenapa kita merasa bosan?"

Pak Tua :"Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki."

Tamu :"Bagaimana menghilangkan kebosanan?"

Pak Tua : "Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."

Tamu :"Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?"

Pak Tua:"Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"

Tamu :"Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."

Pak Tua :"Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."

Tamu: "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"

Pak Tua :
"Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.

Tamu :"Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"

Pak Tua :"Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."

Tamu :"Contohnya? "

Pak Tua :"Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.

Tamu :
"Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain
sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaibanpun terjadi.
Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?"

Sambil tersenyum Pak Tua berkata:
"Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria."

Budhi Cahyadi dari berbagai sumber

Saturday, October 1, 2011

Keberanian Mengubah Kehidupan

“Tears will not erase your sorrow; hope does not make you successful; courage will get you there.”
– Air mata tidak akan menghapus dukamu; berharap tidak akan membuatmu sukses; hanya keberanian yang bisa membawamu kesana. Johni Pangalila

Setiap hari kita mempunyai peluang yang menguntungkan, entah itu dalam skala kecil maupun besar. Bila kita cukup berani, maka peluang-peluang tersebut akan menjadi keberuntungan yang besar. Sebab keberanian akan menimbulkan aksi yang signifikan.
Keberanian adalah suatu sikap untuk berbuat sesuatu dengan tidak terlalu merisaukan kemungkinan-kemungkinan buruk. Aristotle mengatakan bahwa, “The conquering of fear is the beginning of wisdom. Kemampuan menaklukkan rasa takut merupakan awal dari kebijaksanaan.”
Artinya, orang yang mempunyai keberanian akan mampu bertindak bijaksana tanpa dibayangi ketakutan-ketakutan yang sebenarnya merupakan halusinasi belaka. Orang-orang yang mempunyai keberanian akan sanggup menghidupkan mimpi-mimpi dan mengubah kehidupan pribadi sekaligus orang-orang di sekitarnya.

Beberapa abad yang silam Virgil mengatakan, “Fortune favors the bold. – Keberuntungan menyukai keberanian.” Marilah kita belajar dari para tokoh olah raga yang mempunyai prestasi berskala internasional, yaitu Carl Lewis, Michael Jordan, Marilyn King dan lain sebagainya. Mereka mempunyai keberanian yang tinggi untuk menepis segala kekhawatiran akan keterbatasan dalam diri mereka. Karena itulah mereka mampu berprestasi di bidang olah raga dan tampil sebagai tokoh yang berkarakter.
Kita juga mempunyai peluang yang sama besar di bidang yang sama ataupun di bidang lain, misalnya di bidang seni, politik, bisnis, ilmu pengetahuan, filsafat dan lain sebagainya. Tetapi apakah kita sudah mempunyai cukup keberanian menangkap peluang yang datang setiap hari itu dan mengubahnya menjadi prestasi hidup?
Hanya diri kita yang mampu mengukur apakah keberanian kita cukup besar? Marilyn King mengatakan bahwa keberanian kita secara garis besar dipengaruhi oleh 3 hal, yaitu visi (vision), tindakan nyata (action), dan semangat (passion). Ketiga hal tersebut mampu mengatasi rasa khawatir, ketakutan, dan memudahkan kita meraih impian-impian.

Berdasarkan visi atau tujuan yang ingin kita capai, satu hal yang terpenting adalah kita harus menciptakan kemajuan. Menurut Vince Lombardi, seorang pelatih rugby ternama di dunia, upaya menciptakan kemajuan akan berjalan secara bertahap. Adanya perubahan menjadikan diri kita berani membuat kemajuan yang lebih besar. Karena itu Anthony J. D’Angelo menegaskan, “Don’t fear change, embrace it. – Jangan pernah takut pada perubahan, tetapi peluklah ia erat.” Maka perjelas visi, supaya berpengaruh signifikan terhadap keberanian.

Sementara itu, peluang datang terkadang dengan cara yang tidak terduga. Samuel Johnson mengatakan bahwa, “Whatever enlarges hope will also exalt courage. – Apapun yang dapat memperbesar harapan, maka ia juga akan meningkatkan keberanian.” Artinya, tindakan kerja untuk mengubah peluang akan meningkatkan harapan sekaligus keberanian memikirkan kemungkinan-kemungkinan terbaik atau menanggung resiko kegagalan sekalipun. Jika sudah mengetahui secara pasti apa yang kita inginkan dan sudah melakukan tindakan, maka hal itu akan meningkatkan keberanian untuk tidak pernah menyerah sebelum benar-benar berhasil.

Faktor ketiga yang berpengaruh terhadap tingkat keberanian adalah semangat (passion). Mungkin kita akan terinspirasi semangat seorang olah ragawan Carl Lewis. Dirinya tidak merasa khawatir atau takut akan mengalami kekalahan dalam pertandingan karena ia mempunyai semangat yang tinggi. Semangat Carl Lewis memompa keberaniannya melewati bermacam kesulitan, sehingga ia berhasil meraih 22 medali emas diantaranya : 9 dari olimpiade/Games, 8 dari World Championship, 2 dari Pan America Games.
Ayahnya adalah orang yang paling berjasa dibalik keberaniannya itu. Ayahnya adalah orang yang tidak pernah bosan memberikan dorongan motivasi. Sehingga ketika ayahnya meninggal dunia pada tahun 1987 akibat serangan penyakit kanker, Carl Lewis menguburkan salah satu medali emas dari perlombaan lari 100 m yang paling disukai ayahnya. Dia berjanji untuk mendapatkan kembali medali itu. Semangat Carl Lewis meningkatkan keberaniaannya menembus halangan, hingga ia  kembali berhasil mengumpulkan 9 medali emas beberapa tahun kemudian.

Carl Lewis adalah salah satu contoh orang sukses. Ia mempunyai keberanian yang tinggi untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa atau tidak akan pernah dikerjakan oleh orang-orang yang biasa-biasa saja. Mereka konsisten menciptakan kemajuan terus menerus. Ekhorutomwen E.Atekha menerangkan, “All you need to keep moving is your ability to keep being courageous. – Segala sesuatu yang menggerakkan dirimu adalah kemampuanmu untuk memacu keberanian.” Mereka senantiasa  mempunyai keberanian yang tinggi untuk mengubah kehidupan karena mereka mempunyai visi, melakukan aksi dan mempunyai semangat yang luar biasa.

Budhi Cahyadi
Sumber: Keberanian yang Dapat Mengubah Kehidupan oleh Andrew Ho